Cerpen
Rasanya
Lupa Tak Bawa Buku Tulis
Rahma Hardyan D.C
Pada
suatu hari aku benar-benar kecapekan karena sibuk les dan tumpukan tugas yang
belum ku kerjakan sama sekali. Dan tak disangka saat aku sedang mengerjakan
tugas-tugas itu seketika aku tertidur
lelap seperti terhipnotis, aku tertidur lelap karena sudah sangat capek dang
mengantuk. Padahal tugasku itu belum selesai sama sekali. Pada keesokan harinya
aku bangun agak kesiangan, akhirnya aku buru-buru berangkat ke sekolah hingga
aku lupa tidak memasukkan buku tulis ke dalam tas sekolahku. Tiba disekolah aku
baru sadar, dan saat itu ada tugas pada waktu jam pertama pelajaran. Dan aku
tidak tahu kalau ada tugas karena aku adalah tipe orang pelupa.
“Si, masak aku lupa
nggak bawa buku tulis yaa ?”, Tanyaku pada teman sebangkuku, Rosi namanya.
“Aku juga nggak taulah
Rahma sayang, emang buku tulis apa aja sih yang ketinggalan? Nih aku kasih
lembaran fotocopyan buat ngerjain tugas IPS!”, jawab Rosi sambil menyodorkan
lembaran fotocopyan itu.
Tanyaku lagi dengan
ekspresi bingung dan cengengesan, “Semuanya sii!! Semua buku tulis mata
pelajaran hari ini ketinggalan semua. Aduhh gimana ya, si? Aku nyontek cara
ngerjainnya yak, si?”
Jawab Rosi lagi,
“Hahaha syukurin, lha terus nanti kamu gimana kalo ada catetan? Iya iya ini
punyaku, aku yang satunya juga belum selesai kok tapi nanti mau nyontek
punyanya Hendri.”, sambil menyerahkan tugasnya.
“Tapi aku bawa buku
folio kok, aku nyatetnya disitu aja deh kalo nanti ada catetan. Hahaha, oke oke
si. Ngumpulinnya nanti bareng ya, sii? Tunggu aku okee?”, jawabku lagi sambil
tetap cengengesan dan buru-buru mengerjakan tugas, dan dengan hati yang agak
tenang.
“Yaudah nanti kalo
ditanya guru bilang aja apa adanya ya nggak? Sip sip! Aku tungguin kok, kita
kan sahabat, ma.”, jawab Rosi yang semakin menenangkan hatiku dan pikiranku.
“Siap, si! Tapi bantuin
jawab yaa kalo ditanya? Iyaa dong.”, Jawabku
“Iya pasti kok!”, jawab
Rosi.
Selama
15 menit yang seharusnya dipakai untuk kegiatan membaca kitab suci bersama-sama
pun ku pakai untuk mengerjakan tugas itu. Bukan karena nilai, tetapi hukuman
dari guru yang kuhindari. Karena guru pengajar pelajaran IPS adalah wali
kelasku sendiri, dan beliau memang lumayan tega menghukum muridnya, nama
panggilannya adalah Bu Darmi. Setelah 15 menit berlalu, Bu Darmi datang dan
masuk kedalam kelasku.
“Selamat pagi
anak-anak!”, sapa Bu Darmi sebagai pembuka pelajaran.
“Selamat pagi bu!”,
jawab anak-anak 9H.
“Tugasnya dikumpulkan
hari ini ya!”, perintah Bu Darmi.
“Iya bu, saya sudah
selesai ini bu!”, jawab salah satu seorang temanku.
Dalam hatiku mulai tak
tenang kembali.
“Saya belum selesai bu,
tunggu saya ya bu!”, jawabku agar Bu Darmi tak menengurku terlebih dahulu.
“Iya, saya tunggu bagi
yang belum selesai.”, jawab Bu Darmi dengan lembut.
Dalam hatiku berkata,
“Tumben banget Bu Darmi nggak ngehukum yaa, hehehe.”, sambil tersenyum-senyum
sendiri dan tetap mengerjakan tugas itu.
Setelah
sekitar 10 menit aku pun akhirnya selesai mengerjakan. Sekali lagi Bu Darmi
menjawab sapaanku dengan lembut saat aku mengumpulkan tugas ke meja guru.
Untung mata pelajaran IPS hari itu Cuma 1 jam pelajaran aja, bayangin aja kalau
2 jam pelajaran, mungkin aku udah dimarahin kali.
Setelah jam pertama
selesai, lanjut ke jam pelajaran kedua dan seterusnya. Setiap mata pelajaran
baru akan dimulai, hatiku juga ikut tidak tenang lagi karena takut jika akan
kena marah guru. Tapi ternyata, semua mata pelajaran hari itu tidak menggunakan
catatan sama sekali. Sampai rumah aku senang karena tidak kena marah guru sama
sekali, dan aku tidak akan mengulanginya lagi. Meskipun aku tidak belajar tapi
setidaknya aku tidak akan lupa lagi membawa buku tulis. Memang hari
keberuntunganku saat itu.

Komentar
Posting Komentar